Notification

×

Iklan

Pasang Iklan

Iklan

Pasang Iklan

Opini; Optimis Mengeliminasi Diskriminasi

| Maret 27, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-28T06:07:05Z
Pasang Iklan
Foto Ilustrasi

Penulis: Ardiansyah 


Slogan ‘Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya’ menjadi edukasi yang fundamental bagi masyarakat dalam menekan penyebaran HIV-AIDS. Sebab orang dengan HIV-AIDS (ODHA) tak perlu menjadi momok yang mengerikan bagi masyarakat secara umum. Tapi yang perlu dicegah yakni penyebaran virusnya.


Memang informasi dan edukasi terkait HIV-AIDS masih sangat perlu dimasifkan. Virus yang muncul sejak tahun 1986 ini perlu dipahami secara komprehensif. Jika penyampaian informasinya salah, maka akan terjadi sikap diskriminasi terhadap ODHA. Sehingga pengendalian penyebaran virus itu juga akan lebih sulit.


Di tengah derasnya arus informasi, hoaks seputar HIV-AIDS tak bisa terbendung. Masih saja ada oknum yang tak kompeten menyebarkan informasi HIV AIDS. Katanya, virus ini bisa menular dengan mudah melalui udara, bersentuhan dan hewan terbang. Namun semua itu tak benar.


Sejumlah aktivis peduli HIV AIDS tak gentar melawan disinformasi yang beredar luas di masyarakat. Kini sosialisasi dan gerakan sosial peduli HIV AIDS terus digalakkan. Mulai pusat kota hingga pelosok desa. 


Dalam satu sosialisasi terungkap bahwa virus HIV sangat tidak mudah ditularkan. Sebab ada empat faktor yang harus terpenuhi untuk penyebaran virus HIV. Para aktivis biasa menyebutnya ESSE atau Exit, Survive, Sufficient dan Enter.


4 istilah itu merupakan faktor penyebab penularan virus HIV. Virus ini tak akan menular jika salah satu faktornya tidak terpenuhi. Lalu bagaimana penjelasan ESSE itu?


Pertama yakni Exit merupakan faktor penularan virus yang dikeluarkan dari ODHA. Biasanya objek penularan melalui darah, hubungan seksual berisiko dan jarum suntik. Kemudian Survive yakni penularan dengan virus yang hidup. Selanjutnya, Sufficient yakni penularan bisa terjadi jika jumlah virus cukup. Terakhir Enter yakni penularan virus bisa terjadi jika masuk ke dalam tubuh orang lain.


Nah penjelasan faktor penyebab penularan HIV menjadi edukasi yang penting. Sehingga masyarakat umum tak berlebihan menyikapi atau bahkan mendiskriminasi ODHA. Sebab, bukan saja virusnya yang menjadi tantangan, tetapi juga diskriminasi terhadap ODHA.


Banyak kejadian diskriminasi terhadap ODHA. Dijauhi, dikucilkan hingga diusir. Tanpa ada solusi. Beruntung, gerakan aktivis peduli HIV AIDS bisa mengimbangi sikap diskriminatif terhadap ODHA yang terjadi di beberapa daerah. 


Bukan hanya masyarakat umum, mendiskriminasi ODHA juga pernah dilakukan tenaga kesehatan. Namun dengan gerakan promotif preventif hingga pelatihan-pelatihan, ketakutan tenaga kesehatan tak lagi terjadi. Sehingga, saat ini ODHA tak lagi kesulitan menerima pelayanan kesehatan.


Mengeliminasi sikap diskriminatif terhadap ODHA di tengah masyarakat memang tidaklah mudah. Namun dengan semangat kolaborasi semua stakeholder, kita masih optimis fenomena mendiskriminasi ODHA bisa dihilangkan.


Semua harus berperan mengeliminasi sikap diskriminasi terhadap ODHA. Selain tenaga kesehatan dengan pengobatannya, pemerintah dengan kebijakannya, juga ada media lewat penyajian informasinya.


Paradigma khalayak tentang HIV AIDS juga sangat berpengaruh dengan berita yang disajikan media. Terkadang sikap diskriminatif muncul karena media menyajikan berita yang mengerikan. Dengan diksi kata yang menakutkan. 


Olehnya itu, gerakan pelatihan jurnalistik HIV AIDS juga sangat penting. Para jurnalis bukan berniat tidak bagus terhadap ODHA. Tetapi wawasannya perlu ditingkatkan melalui pelatihan. Sehingga jika informasi yang disampaikan lebih berempati dan positif terhadap ODHA, maka hasilnya akan lebih baik.


Bukan cuma itu, media juga berperan penting untuk mendorong masyarakat memutus penularan HIV AIDS. Yakni melalui testing hingga tidak melakukan diskriminasi dan stigmatisasi kepada ODHA. 


Dengan semangat optimisme mengeliminasi sikap diskriminatif dan perawatan yang intens bagi ODHA, maka tujuan menekan HIV AIDS di Indonesia bisa terwujud. Gerakan menuju Three Zero HIV 2030 bisa tercapai dengan baik. (*)

Pasang Iklan


Pasang Iklan


Pasang Iklan


Pasang Iklan


×
Berita Terbaru Update